Dalam cuaca yang sangat terik, duduk bersandar pada sebatang pohon kelapa sembari mengipas-ngipas badan yang bertelanjang dada. Sayup terdengar lantunan sholawat menjelang adzan Dhuhur. Entah sudah berapa kali aku meneguk air minum dari ceret yang ku bawa dari rumah tadi pagi. Cangkul sengaja ku tinggal di tengah sawah sambil sesekali ku pandang dari pinggir pematang." Mengapa hari ini terasa panas menyengat ya .." gumamku.
Ku tatap lahan sawah hasil cangkulanku sedari pagi. Dalam hati aku bertanya entah kepada siapa, sampai kapan aku terus bertahan dalam pekerjaan seperti ini. Sesekali ku hembuskan nafas dalam kegalauan yang semakin kalut. Hasil panen musim ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pertengahan musim depan. Tidak seperti pak haji tetangga sebelah tiap kali habis panen selalu membeli barang-barang baru. Musim ini dia membeli motor keluaran terbaru yang sangat mahal untuk ukuran orang seperti aku. Memang dia memiliki lahan sawah yang cukup luas. Panen padi musim ini memang jauh dari harapanku. Apalagi kondisi tanaman padiku kurang bagus karena terserang hama penggerek, untunglah ada bantuan racun dari pemerintah lewat kelompok taniku.
Ku tatap lahan sawah hasil cangkulanku sedari pagi. Dalam hati aku bertanya entah kepada siapa, sampai kapan aku terus bertahan dalam pekerjaan seperti ini. Sesekali ku hembuskan nafas dalam kegalauan yang semakin kalut. Hasil panen musim ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pertengahan musim depan. Tidak seperti pak haji tetangga sebelah tiap kali habis panen selalu membeli barang-barang baru. Musim ini dia membeli motor keluaran terbaru yang sangat mahal untuk ukuran orang seperti aku. Memang dia memiliki lahan sawah yang cukup luas. Panen padi musim ini memang jauh dari harapanku. Apalagi kondisi tanaman padiku kurang bagus karena terserang hama penggerek, untunglah ada bantuan racun dari pemerintah lewat kelompok taniku.
" Ayo pulang kang ..", terhenyak aku mendengarnya, ternyata tetangga belakang rumahku sudah berdiri disamping pohon kelapa yang ku sandari. " Oh yaaa..", jawabku sambil tersenyum ku toleh dia yang sudah memanggul cangkulnya. Akupun berdiri menuju tengah sawah mengambil cangkul yang sengaja ku tinggal. Akupun kembali ke jalan pematang terus menuju arah rumahku. Ku lewati beberapa petak sawah dengan berjalan menunduk disepanjang pematang." Duh ..!!." ceretku ketinggalan dibawah pohon kelapa tadi, sambil menghela nafas ku balik lagi mengambilnya. Akupun kembali berjalan menuju pematang arah pulang ke rumahku. Begitu sesampainya aku langsung menuju sumur belakang rumah untuk sekedar cuci muka dan membersihkan cangkul dan sabit.
" Assalamu'alaikum ..." kuucapkan salam sambil membuka pintu belakang rumah yang tidak terkunci. " Waalaikum salam " ujar istriku yang kebetulan ada di dapur.
" Assalamu'alaikum ..." kuucapkan salam sambil membuka pintu belakang rumah yang tidak terkunci. " Waalaikum salam " ujar istriku yang kebetulan ada di dapur.
" Kopiku mana ...bu? " tanyaku sambil duduk dikursi yang sudah tampak sedikit reot.
" Kopinya sudah habis pak, diminum tole, biar aku buatkan lagi ya.." jawab istriku sambil mengambil panci mau merebus air.
Aku hanya memandangnya tidak menjawab tawarannya, sambil menghela nafas ku tatap sekali lagi istriku tanpa dia sadari. Ya Allah ....hamba bersyukur kepada-Mu, Engkau telah anugerahkan kepadaku seorang istri yang begitu sabar mendampingiku menjalani hidup ini. Dalam benak aku berkata, " maafkan aku istriku ..sampai saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhanmu ".
" Ini kopinya pak, segera sholat dhuhur pak ..sudah jam satu ", ujarnya.
" Yaa.." jawabku singkat sambil menuang kopi tanpa ekspresi.
" Pak, nanti kalo mau makan lauknya di laci yaa, aku mau nyelep padi, mumpung ada tukang selep keliling di depan " kata istriku.
" Yaa..." begitu jawabku singkat sambil nyeruput kopi. Akupun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa penat.(bersambung...).
" Kopinya sudah habis pak, diminum tole, biar aku buatkan lagi ya.." jawab istriku sambil mengambil panci mau merebus air.
Aku hanya memandangnya tidak menjawab tawarannya, sambil menghela nafas ku tatap sekali lagi istriku tanpa dia sadari. Ya Allah ....hamba bersyukur kepada-Mu, Engkau telah anugerahkan kepadaku seorang istri yang begitu sabar mendampingiku menjalani hidup ini. Dalam benak aku berkata, " maafkan aku istriku ..sampai saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhanmu ".
" Ini kopinya pak, segera sholat dhuhur pak ..sudah jam satu ", ujarnya.
" Yaa.." jawabku singkat sambil menuang kopi tanpa ekspresi.
" Pak, nanti kalo mau makan lauknya di laci yaa, aku mau nyelep padi, mumpung ada tukang selep keliling di depan " kata istriku.
" Yaa..." begitu jawabku singkat sambil nyeruput kopi. Akupun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa penat.(bersambung...).
To be continue ya, gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusMantap...
BalasHapus